KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami naikan atas hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
kasih dan rahmatNya,sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas makalah dari mata
kuliah Personality Development.
Dalam
mempersiapkan dan mengerjakan makalah ini kami membutuhkan kerja sama dari
masing-masing anggota penyusun demi terseleselesaikanya makalah ini tepat
waktu,baik itu dalam mengumpulkan materi melalui observasi langsung ke tempat
dan dalam penyusunan materi demi materi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu
makalah.
Dari
waktu yang diberikan oleh Dosen pembimbing yang telah disepakati bersama,kami
penyusun makalah tergerak hati untuk segera menyelesaikan satu paket makalah
yang telah kami persiapkan. Dan sebagai penyusun,kami mengharapkan makalah ini dapat
dievaluasi baik buruknya untuk menyempurnakan makalah ini dan mempersiapkan
makalah-makalah selanjutnya.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Bp.Isdarmanto, Sebagai Dosen pembimbing
Mata Kuliah Personality Development.
2.
Ny.Brahmana, selaku petugas di Keraton
Ngayogyakarta,yang memberikan berbagai informasi kepada kami,saat kami
melakukan observasi.
3.
Orang Tua kami Masing-masing yang setia
mendukung dan memberikan motivasi.
4.
Rekan-rekan yang memberikan support dan
kerjasama.
5. Serta
pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Ibarat
Gading yang tak Retak,
Kami
menyadari makalah ini masih banyak kekurangan,Oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Semoga
makalah ini,dapat bermanfaat bagi kita semua.
Terima
kasih.
Yogyakarta,19
September 2011
Salam
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar..............................................................................................................1
Daftar Isi.......................................................................................................................2
BAB I
Pendahuluan
Latar
Belakang....................................................................................................3
Rumusan Masalah...............................................................................................4
Tujuan..................................................................................................................4
Metode Penelitian................................................................................................4
Studi
Ilmiah.........................................................................................................4
BAB II
Pembahasan
Kraton Yogyakarta Sebagai
Daya Tarik Wisata.................................................5
Sejarah Singkat Kraton
Yogyakarta
dan Detail Lingkungan dalam
Kraton.................................................................6
Analisa Kunjungan wisata
Domestic dan Mancanegara...................................11
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan.......................................................................................................12
Kritik Dan Saran...............................................................................................13
Lampiran Foto-foto....................................................................................................14
Daftar Pustaka............................................................................................................15
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Beraneka
ragam sorotan Pariswisata di Indonesia yang memberikan daya tarik yang
menakjubkan, salah satunya adalah wisata sejarah “Keraton Ngayogyakarta”.
Nama Keraton Kasultanan Yogyakarta, tentu
sudah tidak asing lagi ditelinga kita, kerajaan yang hingga sekarang ini masih
eksis ini merupakan daya tarik pariwisata tersendiri khususnya bagi Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keraton
Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1756 di
wilayah hutan Beringan. Nama hutan tersebut kemudian diabadikan untuk nama
pasar di pusat kota yaitu,yang terkenal dengan nama Pasar Beringharjo. Sedang istilah
Yogyakarta berasal dari kata YOGYA dan KARTA. Yogya artinya bik dan Karta
artinya makmur. Namun pengertian lain menyatakan bahwa Yogyakarta atau
Ngayogyakarta itu berasal dari kata Ayu+Bagya+Karta (Baca : Ngayu+Bagya+Karta),
menjadi Ngayogyakarta.
Keraton
Yogyakarta ini menghadap ke arah utara,dengan halaman depan berupa lapangan
yang disebut alun-alun Lor (Alun-alun Utara), yang pda zaman dahulu
dipergunakan sebagai tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para
prajurit kraton,dan tempat penyelenggaraan upacara adat serta untuk keperluan
lainya. Pada masa sekarang fungsi alun-alun Lor hanya untuk upacara Garebeg dan
perayaan Sekaten. Dibagian tengah alun-alun Lor terdapat dua puhon beringin
yang dikelilingi tembok, yang disebut Beringin Kurung (Waringin Kurung). Dua
pohon beringin yang bersebelahan itu
maing-masing mempunyai nama (Kyai Dewadaru-barat) berasal dari
Majapahit,dan (Kyai Wijayadaru-timur) yang bibitnya berasal dari Pajajaran.
Pusat
wilayah Keraton Yogyakarta luasnya 14.000 meter pesegi, dengan dikelilingi
tembok benteng setinggi 4 meter dan lebar 3,5 meter. Disetiap sudutnya terdapat
penjagaan atau Bastion, untuk melihat/mengawasi keadaan diluar maupun di dalam
Benteng Keraton.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari
penelitian penyusun ingin mengetahui dan memahami, permasalahan/problema
pariwisata yang begitu mencolok yaitu :
1. Mengapa
Kraton Yogyakarta menjadi salah satu daya tarik wisata yang diminati ?
2. Bagaimana
silsilah singkat sejarah Keraton Ngayogyakarta ?
3. Perbedaan
jumlah kunjungan wisatawan dalam (Domestic) dan wisatawan luar negeri
(Mancanegara) ?
C. TUJUAN
Melalui
makalah ini penyusun mengharapkan agar masyarakat Indonesia menyadari budaya
dan sejarah bangsa yang sudah ada sejak dahulu,sampai sekarang ini.
Sangat diharapkan kunjungan wisatawan dalam
negeri (Domestic),kedepan lebih meningkat dibanding dengan wisatawan Asing.
D. METODE PENELITIAN
a. Metode
Wawancara
Informasi di dapat dari seorang
petugas/Guiding di Kraton Yogyakarta. Sehingga informasi yang kami dapat adalah
sesuai Realita dan tanpa di Rekayasa.
b. Metode
Observasi
Observasi, kami datang langsung ketempat
untuk melihat objek-objek yang ada di keraton Yogyakarta.
E. STUDI ILMIAH
Literatur
atau Referensi yang kami pakai adalah Buku Panduan Wisata Keraton Ngayogyakarta
yang kami dapat langsung dari Office Keraton Yogyakarta.
BAB
II
PEMBAHASAN
KRATON YOGYAKARTA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA
Lingkungan
yang indah, arsitektur tradisional “Keraton Yogyakarta”,citra
kehidupan sosial, dan upacara-upacara ritual membuat Yogyakarta menjadi tempat
paling menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan domestic maupun mancanegara. Seni
dan budaya tradisional seperti musik gamelan dan tari-tarian tradisional akan
selalu mengingatkan penonton akan kehidupan Yogyakarta beberapa abad yang lalu.
Pembangunan teknologi modern berkembang di Indonesia dan
di Yogyakarta, ini berkembang secara harmoni dengan adat dan upacara
tradisional.
Sesuai namanya, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memang
benar-benar istimewa. Orang-orangnya sangat ramah. Hal ini membentuk kehidupan
dan kelakuan mereka. Mereka menyukai olahraga tradisional, panahan sebagai hobi
dan juga sangat menyukai permainan burung perkutut. Mereka juga percaya bahwa
orang dapat menikmati hidup dengan mendengarkan kicauan burung. Kompetisi
panahan tradisional selalu diselenggarakan untuk memperingati kelahiran raja,
yang disebut dengan “Wiyosan Dalem”. Dan pada saat Sri Sultan HamengkuBuwono
X lahir, tradisi ini juga dilaksanakan.
Dengan
adanya berbagai macam kesenian adat dan upacara tradisional yang masih
berlangsung, Yogyakarta juga dikenal sebagai “museum hidup Jawa”, yang
dicerminkan dalam segala bentuk hal-hal tradisional berupa kendaraan,
arsitektur, pasar, pusat cindera mata, museum, dan banyak pilihan atraksi
wisata di Yogyakarta.
SEJARAH SINGKAT KRATON YOGYAKARTA DAN DETAIL LINGKUNGAN
DALAM KRATON
Istilah
Karaton,Keraton atau Kraton, berasal dari kata Ka-Ratu-An, yang berarti tempat
tinggal Ratu atau Raja. Demikian juga Kadhaton atau Kedhaton, berasal dari kata
Ka-Dhtu-An, yang berarti tempat tinggal Dhatu/Raja. Sedang arti yang lebih luas
lagi, dapat di uraikan secara sederhana bahwa, ingkungan seluruh struktur dan
bangunan wilayah keraton mengandung arti tertentu yang berkaitan dengan salah
satu padangan hidup jawa yang sangat esensial, yaitu, Sangkan Paraning Dumadi
(Dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati) .
Garis
besarnya wilayah Kraton Yogyakarta yang memanjang sepanjang 5 Km, dari Panggung
Krapyak di sebelah selatan hingga Tugu Kraton di sebelah utara,terdapa garis linier dualisme terbalik yang bisa
dibaca secara simbolik filosofis.
Dari
arah selatan keutara mulau dari Panggung Krapyak, melambangkan arti proses
terjadinya manusia, mulai ketika masih berada di dalam arwah (Tempat Tinggal),
samapai hadir kedunia lantaran ibu dan bapak. Disini keraton sebagai badan
jasmani manusia, sedang Raja/Sultan adalah lambing jiwa sejati yang hadir
kedalam badan jasmani.
Sedang
dari utara keselatan,melambangkan proses perjalanan manusia pulang kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa,sebagai asal dari segala apa yang ada (DUMADI). Oleh karena
itu sebutan Sangkan Paraning Dumadi adalah Sebutan lain untuk Tuhan dalam
pandanga hidup Jawa. Panggung Krapyak adalah tempat tinggi, dalam hal ini
adalah lambing tempat asalnya manusia secara esensial disisi Tuhan sebagai
tempat yang tinggi.
Gambaran
yang sederhana adalah, Tugu Kraon Yogyakarta sebagai penjelmaan LINGGA
(Laki-laki), dan Panggung Krapyak sebagai
penjelmaan YONI (Perempuan). Kraton Yogyakarta sebagai lambing badan jasmani
manusia yang berasal dari laki-laki/Bapak (LINGGA) dan Perempuan atau ibu
(YONI). Jadi, LINGGA + YONI = KRATON YOGYAKARTA (Sangkan Paraning Dumadi).
FUNGSI
KRATON YOGYAKARTA
1. Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya.
2. Sebagai pusat pemerintahan.
3. Sebsgai pusat kebudayaan dan pengembanganya.
4. Pada jaman kemerdekaan,mulai dbuka untuk kepentingan
umum, seperti kegiatan pariwisata, kegiatan ilmu pengetahuan, serta kegiatan
lain yang ada hubungan dengan kepentingan masyrakat.
5. Merupakan museum perjuangan bangsa,karena Yogyakarta
dengan Kratonya pernah digunakan sebagai tempat kegiatan perjuangan fisik
maupun kegiatan pemerintahan ketika ibukota Republik Indonesia berada di Yogyakarta.
BANGUNAN-BANGUNAN
DI LINGKUNGAN DALAM KRATON
Mengenai
Nama masing-masing bangunan yang terdapat pada setiap halaman di lingkungan
dalam kraton, seperti tersebut di bawah ini,dimulai dari bagian depan, yaitu :
1.
Pelataran
pagelaran
a.
Bangsal
Pagelaran
b.
Bangsal
Pemandengan
c.
Bangsal
Pengapit
d.
Bangsal
Pengrawit
e.
Bangsal
Pacikeran
f.
Bangsal
Sitihinggil
g.
Bangsa
Menguntur Tangkil
h.
Bangsal
Witana
i.
Balebang
j.
Bale
Anggun-Anggun
k.
Bangsal
Kori
l.
Tarub
Agung
m.
Regol
Brojonolo
2.
Pelataran
kemandungan Lor (Halaman Keben)
a.
Bangsal
Ponconity
b.
Bangsal
Pacaosan
c.
Regol
Srimangganti
3.
Pelataran
Bangsal Srimangganti
a.
Bangsal
Srimangganti
b.
Bangsal
Trajumas
c.
Patung
Raksasa Dwarapala
d.
Regol
Danapratapa
4.
Halaman
Bangsal Kencana (Halaman Pusat Kraton sebagai Pusat Pemerintahan)
a.
Gedhong
Purwaretna
b.
Gedong
Jene (Gedhong Kuning)
c.
Bangsal
Kencana
d.
Bangsal
Manis
e.
Keputren
5.
Halaman
Kemagangan (Halaman bagian belakang pusat Kraton)
a.
Bangsal
Kemagangan
b.
Panti
Pareden
c.
Regol
gadungmlati
6.
Halaman
kemadungan kidul (Bagian yang ke-6)
a.
Bangsal
kemandungan
b.
Bangsal
Pacaosan
c.
Regol
Kemandungan
7.
Halaman
Sitihinggil kidul (Bagian akhir dari ketujuh halaman yang terdapat dilingkungan
dalam keraton.)
a.
Bangsal
Sasanahinggil
b.
Kagungan
dalam masjid agung kraton Yogyakarta
c.
Pojok
Benteng.
UPACARA-UPACARA
YANG BIASA DI ADAKAN DI KRATON
UPACARA
SEKATEN
Menurut sejarahnya, perayan
Sekatan bermula sejak zaman kerjn pslam Demak.Meski sebelumnya,ketika jaman
pemerintahan Rajan Hayam Wuruk diMajapahit, perayaan semacam Sekaten yang
disebut “SRDAAGUNG” itu suda ada.Perayaan ang menjadi tradisi kerajaan Majapahit tersebut,berupa
persembahan sesaji kepada para dewa,disertai dengan mantra-mantra, sekaligus
untuk menghormati arwah para leluhur.
Pendapat lainya menyatakan
bahwa,kata SEKATEN,berasal dari bahasa Arab,yaitu SYSHADATAIN,yang berarti dua
Syahadat atau kesaksian.Duasyahadat itu ialah:
1.SYAHADAT AUHID
2.SYAHADAT RASUL
UPACARA GAREBEG
Garebeg
adalah upacara adat Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan tiga kali dalam satu
tahun untuk memperingati hari besar Islam. Mengenai Istilah Garebeg,ini berasal
dari bahasa Jawa “Grebeg”, yang berarti “Di iringi para pengikut”. Pengertian
lain mengatakan bahwa Gunungan itu di perebutkan warga masyarakat ang berarti
di Grebeg atau Garebeg.
Pelaksanaan upacara
Tersebut bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti :
1. Garebeg SYAWAL
2. Garebeg Besar
3. Garebeg Maulud
UPACARA
LABUHAN
Yang dimaksud Upacara Labuhan (Laut),yaittu upacara
melempar sesaji dan benda-benda Kraton kelaut untuk di persembahkan kepada
Kanjeng Ratu Kidul. Upacara tradisional Labuhan bermula sejak jaman Panembahan
Senopati di mataram Kotagede.Upacara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas
keberhasilanya dalam memimpin Kerajaan Mataram Kota gede,yang masih tetap
dilestarikan oleh para raja-raja Kesultanan Yogyakarta.
Adapun
Upacara Labuhan ini ada tiga jenis,yaitu :
1.
Labuhan
ageng
2.
Labuhan
Tengahan
3.
Labuhan
Alit.
ANALISA
KUNJUNGAN WISATAWAN DALAM NEGERI (DOMESTIC) DAN LUAR NEGERI (MANCANEGARA)
Terjadi perbedaan yang cukup mencolok
antara jumlah kunjungan wisatawan Domestic dan Mancanegara. Sekretaris
Pengelola Museum Keraton Yogyakarta Ny.Brahmana mengungkapkan : “Wisatawan terutama mengalir dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa
Barat, hingga Sumatera. Kenaikan
wisatawan mancanegara mencapai sekitar 100 persen,” ujarnya..
Harga tiket
masuk ke Museum Keraton Yogyakarta cukup terjangkau oleh masyarakat. Wisatawan
domestik harus membayar Rp 5.000 per orang sedangkan wisatawan asing Rp 12.000
per orang. Khusus bagi rombongan siswa sekolah dasar, pengelola memberikan
diskon harga hingga 50 persen.
Tingginya minat
wisatawan mancanegara sempat menyebabkan pengelola kewalahan dalam penyediaan
pemandu wisata bagi wisatawan asing. Untuk pemandu wisata dengan keahlian
bahasa Perancis, misalnya, pengelola museum sampai kehabisan stok. Setiap
pemandu wisata di Keraton Yogyakarta minimal harus menguasai dua bahasa.
Berikut adalah sekilas data kunjungan wisatawan
pada saat minggu terakhir ketika kami melakukan observasi (16 September
2011),yang kami dapat langsung dari sekertaris pengelola museum Ny.Brahmana :
|
TANGGAL
|
KUNJUNGAN
|
JUMLAH
|
|
12 Sept 2011
|
Domestic
|
526 Orang
|
|
|
Mancanegara
|
417 Orang
|
|
13 Sept 2011
|
Domestic
|
368 Orang
|
|
|
Mancanegara
|
351 Orang
|
|
14 Sept 2011
|
Domestic
|
303 Orang
|
|
|
Mancanegara
|
402 Orang
|
|
15 Sept 2011
|
Domestic
|
410 Orang
|
|
|
Mancanegara
|
330 Orang
|
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Beraneka ragam Pariwisata sejarah khususnya di Indonesia yang memberikan
daya tarik yang begitu menakjubkan baik di dalam maupu diluar (Internasional).
Salah satunya yang menjadi sorotan pariwisata di Yogyakarta adalah hadirnya
citra pariwisata sejarah “KERATON YOGYAKARTA” yang sudah ada sejak dulu dan
tetap eksis sampai saat ini.
Keraton ini memberikan pengaruh yang positiv bagi
dunia tentang betapa pentingnya menjaga kebudayaan dan adat istiadat sampai
kapanpun.
Namun yang sangat
disayangkan, mengapa kunjungan wisatawan dalam Negeri (Domestic),yang justru
lebih sedikit kunjunganya dibandingkan Wisatawan Mancanegara. Masyarakat dalam
negeri yang memahami dan mengetahui sejarah perjuangan bangsa secara langsung
justru kurang menyadari dan kurang tertarik untuk mengunjungi dan melihat
secara langsung kenangan perjuangan sejarah. Sebaliknya mereka yang dari Luar
Negeri yang hanya mendengar/mengetahui melalui perantara,justru sangat tertarik
membuat pengalaman bagi dirinya untuk melihat/memahami/mengabadikan secara
langsung ejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah yang ada di
Kraton Yogyakarta.
B. KRITIK DAN SARAN
a. KRITIK
1. Masyarakat dalam negeri kurang menyadari
dan kurang tertarik untuk melakukan kunjungan wisata ke Kraton Yogyakarta.
2. Para guider tergolong sudah di usia tua.
3. Waktu tutup untuk kunjungan di Kraton terlalu
cepat.
b. SARAN
1. Masyarakat khususya dalam negeri bisa
menyempatkan waktu untuk melakukan kunjungan wisata ke Kraton.
2. Perlu dikembangkan penerus untuk petugas
Guiding yang tergolong masih muda.
3. Waktu tutup Kunjungan di Kraton,lebih lama
Sehingga para wisatawan tiak mrasa
tergesa-gesa karena di buru oleh waktu,
sedangkan mereka belum selesai untuk mengunjungi semua objek yang ada di
lingkungan Kraton Yogyakarta.
LAMPIRAN FOTO-FOTO
DAFTAR
PUSTAKA
Informasi
langsung melalui wawancara dengan Ny.Brahamana sekertaris pengelola Keraton
Yogyakarta.
Buku panduan wisata kraton Yogyakarta.