Kamis, 08 Maret 2012

LAPORAN KUNJUNGAN KE KEDAULATAN RAKYAT KALASAN


LAPORAN KUNJUNGAN
DI KEDAULATAN RAKYAT
(KALASAN)

logo-stipram.jpg





Disusun oleh :
Stheffani Eka S
S1/B/I
11.0337
·         PROSES BERTEMU DENGAN PUBLIC RELATION
Selasa,25 Oktober 2011 .berkumpul di kampus,ada yang sudah berangkat duluan sampai di “KR” Jl.Mangkubumi,ternyata ada pemberitahuan mendadak,bahwa di ganti di Kantor Kalasan.
Sesampainya di sana mengisi daftar hadir dan naik ke atas menuju ruang yang sudah disediakan untuk wawancara dengan public relation.
Di sana kami di sambut oleh mb.suci (PRnya “KR”) dengan ramah,bersama salah seorang wartawan “KR” . kami pun mulai melakukan wawancara.

·         Informasi – informasi yang di dapat setelah wawancara :
KEDAULATAN RAKYAT berdiri tanggal 27 September 1945.
Ø  Yang memprakarsai nama Kedaulatan Rakyat adalah Sudarisman.
Ø  Pendiri “KR” adalah Hj.Samawi & Bp.Madikin Wonogito
Ø  Proses cetak dilakukan di Kalasan, sedangkan proses perfilman dilakukan di Jl.Mangkubumi
Ø  Proses pembuatan berita :
1.      Rapat Malam
2.      Hunting (pencarian berita)                
3.      Writing
4.      Correcting
5.      Layouting
6.      Filming
7.      Plating
8.      Di cetak (100.000 eksemplar/hari)
9.      Distribusi
Ø  Sumber berita di dapat dari :
1.      Kerjasama dengan banyak orang
2.      Wawancara
3.      Internet (melanggan dari AP)

KEDAULATAN RAKYAT merupakan koran lokal,yang daerah pasarannya berada di Jateng, Jakarta, Purworejo, Purwokerto, Kulon Progo, Yogya,
Semarang, Magelang, Klaten, Solo, Wonosari.
Keuntungan terbesar yang terdapat di Kedaulatan Rakyat terdapat di iklan,karena hampir 50% biaya itu dari iklan.



contoh makalah tentang kerathon yogyakarta


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami naikan atas hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih dan rahmatNya,sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas makalah dari mata kuliah Personality Development.
Dalam mempersiapkan dan mengerjakan makalah ini kami membutuhkan kerja sama dari masing-masing anggota penyusun demi terseleselesaikanya makalah ini tepat waktu,baik itu dalam mengumpulkan materi melalui observasi langsung ke tempat dan dalam penyusunan materi demi materi sedemikian rupa sehingga menjadi suatu makalah.
Dari waktu yang diberikan oleh Dosen pembimbing yang telah disepakati bersama,kami penyusun makalah tergerak hati untuk segera menyelesaikan satu paket makalah yang telah kami persiapkan. Dan sebagai penyusun,kami mengharapkan makalah ini dapat dievaluasi baik buruknya untuk menyempurnakan makalah ini dan mempersiapkan makalah-makalah selanjutnya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bp.Isdarmanto, Sebagai Dosen pembimbing Mata Kuliah Personality Development.
2.      Ny.Brahmana, selaku petugas di Keraton Ngayogyakarta,yang memberikan berbagai informasi kepada kami,saat kami melakukan observasi.
3.      Orang Tua kami Masing-masing yang setia mendukung dan memberikan motivasi.
4.      Rekan-rekan yang memberikan support dan kerjasama.
5.      Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Ibarat Gading yang tak Retak,
         Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan,Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Semoga makalah ini,dapat bermanfaat bagi kita semua.
Terima kasih.



Yogyakarta,19 September 2011

Salam Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................................1
Daftar Isi.......................................................................................................................2

BAB I
Pendahuluan
          Latar Belakang....................................................................................................3
          Rumusan Masalah...............................................................................................4
          Tujuan..................................................................................................................4
          Metode Penelitian................................................................................................4
          Studi Ilmiah.........................................................................................................4

BAB II
Pembahasan
          Kraton Yogyakarta Sebagai Daya Tarik Wisata.................................................5
          Sejarah Singkat Kraton Yogyakarta
          dan Detail Lingkungan dalam Kraton.................................................................6
          Analisa Kunjungan wisata Domestic dan Mancanegara...................................11

BAB III
PENUTUP
          Kesimpulan.......................................................................................................12
          Kritik Dan Saran...............................................................................................13
Lampiran Foto-foto....................................................................................................14
Daftar Pustaka............................................................................................................15
         
         


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Beraneka ragam sorotan Pariswisata di Indonesia yang memberikan daya tarik yang menakjubkan, salah satunya adalah wisata sejarah “Keraton Ngayogyakarta”.
 Nama Keraton Kasultanan Yogyakarta, tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita, kerajaan yang hingga sekarang ini masih eksis ini merupakan daya tarik pariwisata tersendiri khususnya bagi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keraton Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1756 di wilayah hutan Beringan. Nama hutan tersebut kemudian diabadikan untuk nama pasar di pusat kota yaitu,yang terkenal dengan nama Pasar Beringharjo. Sedang istilah Yogyakarta berasal dari kata YOGYA dan KARTA. Yogya artinya bik dan Karta artinya makmur. Namun pengertian lain menyatakan bahwa Yogyakarta atau Ngayogyakarta itu berasal dari kata Ayu+Bagya+Karta (Baca : Ngayu+Bagya+Karta), menjadi Ngayogyakarta.
Keraton Yogyakarta ini menghadap ke arah utara,dengan halaman depan berupa lapangan yang disebut alun-alun Lor (Alun-alun Utara), yang pda zaman dahulu dipergunakan sebagai tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit kraton,dan tempat penyelenggaraan upacara adat serta untuk keperluan lainya. Pada masa sekarang fungsi alun-alun Lor hanya untuk upacara Garebeg dan perayaan Sekaten. Dibagian tengah alun-alun Lor terdapat dua puhon beringin yang dikelilingi tembok, yang disebut Beringin Kurung (Waringin Kurung). Dua pohon beringin yang bersebelahan itu  maing-masing mempunyai nama (Kyai Dewadaru-barat) berasal dari Majapahit,dan (Kyai Wijayadaru-timur) yang bibitnya berasal dari Pajajaran.
Pusat wilayah Keraton Yogyakarta luasnya 14.000 meter pesegi, dengan dikelilingi tembok benteng setinggi 4 meter dan lebar 3,5 meter. Disetiap sudutnya terdapat penjagaan atau Bastion, untuk melihat/mengawasi keadaan diluar maupun di dalam Benteng Keraton.



B.     RUMUSAN MASALAH
Dari penelitian penyusun ingin mengetahui dan memahami, permasalahan/problema pariwisata yang begitu mencolok yaitu :
1.      Mengapa Kraton Yogyakarta menjadi salah satu daya tarik wisata yang diminati ?
2.      Bagaimana silsilah singkat sejarah Keraton Ngayogyakarta ?
3.      Perbedaan jumlah kunjungan wisatawan dalam (Domestic) dan wisatawan luar negeri (Mancanegara) ? 

C.    TUJUAN
Melalui makalah ini penyusun mengharapkan agar masyarakat Indonesia menyadari budaya dan sejarah bangsa yang sudah ada sejak dahulu,sampai sekarang ini.
   Sangat diharapkan kunjungan wisatawan dalam negeri (Domestic),kedepan lebih meningkat dibanding dengan wisatawan Asing.

D.    METODE PENELITIAN
a.       Metode Wawancara
Informasi di dapat dari seorang petugas/Guiding di Kraton Yogyakarta. Sehingga informasi yang kami dapat adalah sesuai Realita dan tanpa di Rekayasa.
b.      Metode Observasi
Observasi, kami datang langsung ketempat untuk melihat objek-objek yang ada di keraton Yogyakarta.

E.     STUDI ILMIAH
Literatur atau Referensi yang kami pakai adalah Buku Panduan Wisata Keraton Ngayogyakarta yang kami dapat langsung dari Office Keraton Yogyakarta.






BAB II
PEMBAHASAN

KRATON YOGYAKARTA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA

Lingkungan yang indah, arsitektur tradisional “Keraton Yogyakarta”,citra kehidupan sosial, dan upacara-upacara ritual membuat Yogyakarta menjadi tempat paling menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan domestic maupun mancanegara. Seni dan budaya tradisional seperti musik gamelan dan tari-tarian tradisional akan selalu mengingatkan penonton akan kehidupan Yogyakarta beberapa abad yang lalu.
Pembangunan teknologi modern berkembang di Indonesia dan di Yogyakarta, ini berkembang secara harmoni dengan adat dan upacara tradisional.
Sesuai namanya, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memang benar-benar istimewa. Orang-orangnya sangat ramah. Hal ini membentuk kehidupan dan kelakuan mereka. Mereka menyukai olahraga tradisional, panahan sebagai hobi dan juga sangat menyukai permainan burung perkutut. Mereka juga percaya bahwa orang dapat menikmati hidup dengan mendengarkan kicauan burung. Kompetisi panahan tradisional selalu diselenggarakan untuk memperingati kelahiran raja, yang disebut dengan “Wiyosan Dalem”. Dan pada saat Sri Sultan
HamengkuBuwono X lahir, tradisi ini juga dilaksanakan.
        Dengan adanya berbagai macam kesenian adat dan upacara tradisional yang masih berlangsung, Yogyakarta juga dikenal sebagai “museum hidup Jawa”, yang dicerminkan dalam segala bentuk hal-hal tradisional berupa kendaraan, arsitektur, pasar, pusat cindera mata, museum, dan banyak pilihan atraksi wisata di Yogyakarta.







SEJARAH SINGKAT KRATON YOGYAKARTA DAN DETAIL LINGKUNGAN DALAM KRATON

Istilah Karaton,Keraton atau Kraton, berasal dari kata Ka-Ratu-An, yang berarti tempat tinggal Ratu atau Raja. Demikian juga Kadhaton atau Kedhaton, berasal dari kata Ka-Dhtu-An, yang berarti tempat tinggal Dhatu/Raja. Sedang arti yang lebih luas lagi, dapat di uraikan secara sederhana bahwa, ingkungan seluruh struktur dan bangunan wilayah keraton mengandung arti tertentu yang berkaitan dengan salah satu padangan hidup jawa yang sangat esensial, yaitu, Sangkan Paraning Dumadi (Dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati) .
Garis besarnya wilayah Kraton Yogyakarta yang memanjang sepanjang 5 Km, dari Panggung Krapyak di sebelah selatan hingga Tugu Kraton di sebelah utara,terdapa  garis linier dualisme terbalik yang bisa dibaca secara simbolik filosofis.
Dari arah selatan keutara mulau dari Panggung Krapyak, melambangkan arti proses terjadinya manusia, mulai ketika masih berada di dalam arwah (Tempat Tinggal), samapai hadir kedunia lantaran ibu dan bapak. Disini keraton sebagai badan jasmani manusia, sedang Raja/Sultan adalah lambing jiwa sejati yang hadir kedalam badan jasmani.
Sedang dari utara keselatan,melambangkan proses perjalanan manusia pulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,sebagai asal dari segala apa yang ada (DUMADI). Oleh karena itu sebutan Sangkan Paraning Dumadi adalah Sebutan lain untuk Tuhan dalam pandanga hidup Jawa. Panggung Krapyak adalah tempat tinggi, dalam hal ini adalah lambing tempat asalnya manusia secara esensial disisi Tuhan sebagai tempat yang tinggi.
Gambaran yang sederhana adalah, Tugu Kraon Yogyakarta sebagai penjelmaan LINGGA (Laki-laki),  dan Panggung Krapyak sebagai penjelmaan YONI (Perempuan). Kraton Yogyakarta sebagai lambing badan jasmani manusia yang berasal dari laki-laki/Bapak (LINGGA) dan Perempuan atau ibu (YONI). Jadi, LINGGA + YONI = KRATON YOGYAKARTA (Sangkan Paraning Dumadi).
                                                                      



FUNGSI KRATON YOGYAKARTA
1.      Sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya.
2.      Sebagai pusat pemerintahan.
3.      Sebsgai pusat kebudayaan dan pengembanganya.
4.      Pada jaman kemerdekaan,mulai dbuka untuk kepentingan umum, seperti kegiatan pariwisata, kegiatan ilmu pengetahuan, serta kegiatan lain yang ada hubungan dengan kepentingan masyrakat.
5.      Merupakan museum perjuangan bangsa,karena Yogyakarta dengan Kratonya pernah digunakan sebagai tempat kegiatan perjuangan fisik maupun kegiatan pemerintahan ketika ibukota Republik Indonesia berada di Yogyakarta.

BANGUNAN-BANGUNAN DI LINGKUNGAN DALAM KRATON

            Mengenai Nama masing-masing bangunan yang terdapat pada setiap halaman di lingkungan dalam kraton, seperti tersebut di bawah ini,dimulai dari bagian depan, yaitu :
1.      Pelataran pagelaran
a.       Bangsal Pagelaran
b.      Bangsal Pemandengan
c.       Bangsal Pengapit
d.      Bangsal Pengrawit
e.       Bangsal Pacikeran
f.       Bangsal Sitihinggil
g.      Bangsa Menguntur Tangkil
h.      Bangsal Witana
i.        Balebang
j.        Bale Anggun-Anggun
k.      Bangsal Kori
l.        Tarub Agung
m.    Regol Brojonolo
2.      Pelataran kemandungan Lor (Halaman Keben)
a.      Bangsal Ponconity
b.      Bangsal Pacaosan
c.      Regol Srimangganti
3.      Pelataran Bangsal Srimangganti
a.      Bangsal Srimangganti
b.      Bangsal Trajumas
c.      Patung Raksasa Dwarapala
d.     Regol Danapratapa
4.      Halaman Bangsal Kencana (Halaman Pusat Kraton sebagai Pusat Pemerintahan)
a.      Gedhong Purwaretna
b.      Gedong Jene (Gedhong Kuning)
c.      Bangsal Kencana
d.     Bangsal Manis
e.      Keputren
5.      Halaman Kemagangan (Halaman bagian belakang pusat Kraton)
a.      Bangsal Kemagangan
b.      Panti Pareden
c.      Regol gadungmlati
6.      Halaman kemadungan kidul (Bagian yang ke-6)
a.      Bangsal kemandungan
b.      Bangsal Pacaosan
c.      Regol Kemandungan
7.      Halaman Sitihinggil kidul (Bagian akhir dari ketujuh halaman yang terdapat dilingkungan dalam keraton.)
a.      Bangsal Sasanahinggil
b.      Kagungan dalam masjid agung kraton Yogyakarta
c.      Pojok Benteng.








UPACARA-UPACARA YANG BIASA DI ADAKAN DI KRATON

UPACARA SEKATEN
Menurut sejarahnya, perayan Sekatan bermula sejak zaman kerjn pslam Demak.Meski sebelumnya,ketika jaman pemerintahan Rajan Hayam Wuruk diMajapahit, perayaan semacam Sekaten yang disebut “SRDAAGUNG” itu suda ada.Perayaan ang menjadi tradisi    kerajaan Majapahit tersebut,berupa persembahan sesaji kepada para dewa,disertai dengan mantra-mantra, sekaligus untuk menghormati arwah para leluhur.
            Pendapat lainya menyatakan bahwa,kata SEKATEN,berasal dari bahasa Arab,yaitu SYSHADATAIN,yang berarti dua Syahadat atau kesaksian.Duasyahadat itu ialah:
1.SYAHADAT AUHID
2.SYAHADAT RASUL

UPACARA GAREBEG
          Garebeg adalah upacara adat Kraton Yogyakarta yang diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun untuk memperingati hari besar Islam. Mengenai Istilah Garebeg,ini berasal dari bahasa Jawa “Grebeg”, yang berarti “Di iringi para pengikut”. Pengertian lain mengatakan bahwa Gunungan itu di perebutkan warga masyarakat ang berarti di Grebeg atau Garebeg.
            Pelaksanaan upacara Tersebut bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti :
1.      Garebeg SYAWAL
2.      Garebeg Besar
3.      Garebeg Maulud




UPACARA LABUHAN
            Yang dimaksud Upacara Labuhan (Laut),yaittu upacara melempar sesaji dan benda-benda Kraton kelaut untuk di persembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Upacara tradisional Labuhan bermula sejak jaman Panembahan Senopati di mataram Kotagede.Upacara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilanya dalam memimpin Kerajaan Mataram Kota gede,yang masih tetap dilestarikan oleh para raja-raja Kesultanan Yogyakarta.
            Adapun Upacara Labuhan ini ada tiga jenis,yaitu :
1.      Labuhan ageng
2.      Labuhan Tengahan
3.      Labuhan Alit.


















ANALISA KUNJUNGAN WISATAWAN DALAM NEGERI (DOMESTIC) DAN LUAR NEGERI (MANCANEGARA)
          Terjadi perbedaan yang cukup mencolok antara jumlah kunjungan wisatawan Domestic dan Mancanegara. Sekretaris Pengelola Museum Keraton Yogyakarta Ny.Brahmana mengungkapkan : “Wisatawan terutama mengalir dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera. Kenaikan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 100 persen,” ujarnya..
Harga tiket masuk ke Museum Keraton Yogyakarta cukup terjangkau oleh masyarakat. Wisatawan domestik harus membayar Rp 5.000 per orang sedangkan wisatawan asing Rp 12.000 per orang. Khusus bagi rombongan siswa sekolah dasar, pengelola memberikan diskon harga hingga 50 persen.
Tingginya minat wisatawan mancanegara sempat menyebabkan pengelola kewalahan dalam penyediaan pemandu wisata bagi wisatawan asing. Untuk pemandu wisata dengan keahlian bahasa Perancis, misalnya, pengelola museum sampai kehabisan stok. Setiap pemandu wisata di Keraton Yogyakarta minimal harus menguasai dua bahasa.
Berikut adalah sekilas data kunjungan wisatawan pada saat minggu terakhir ketika kami melakukan observasi (16 September 2011),yang kami dapat langsung dari sekertaris pengelola museum Ny.Brahmana :
TANGGAL
KUNJUNGAN
JUMLAH
12 Sept 2011
Domestic
526 Orang

Mancanegara
417 Orang
13 Sept 2011
Domestic
368 Orang

Mancanegara
351 Orang
14 Sept 2011
Domestic
303 Orang

Mancanegara
402 Orang
15 Sept 2011
Domestic
410 Orang

Mancanegara
330 Orang

BAB III
 PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Beraneka ragam Pariwisata sejarah khususnya di Indonesia yang memberikan daya tarik yang begitu menakjubkan baik di dalam maupu diluar (Internasional). Salah satunya yang menjadi sorotan pariwisata di Yogyakarta adalah hadirnya citra pariwisata sejarah “KERATON YOGYAKARTA” yang sudah ada sejak dulu dan tetap eksis sampai saat ini.
Keraton ini memberikan pengaruh yang positiv bagi dunia tentang betapa pentingnya menjaga kebudayaan dan adat istiadat sampai kapanpun.
            Namun yang sangat disayangkan, mengapa kunjungan wisatawan dalam Negeri (Domestic),yang justru lebih sedikit kunjunganya dibandingkan Wisatawan Mancanegara. Masyarakat dalam negeri yang memahami dan mengetahui sejarah perjuangan bangsa secara langsung justru kurang menyadari dan kurang tertarik untuk mengunjungi dan melihat secara langsung kenangan perjuangan sejarah. Sebaliknya mereka yang dari Luar Negeri yang hanya mendengar/mengetahui melalui perantara,justru sangat tertarik membuat pengalaman bagi dirinya untuk melihat/memahami/mengabadikan secara langsung ejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah yang ada di Kraton Yogyakarta.

B.     KRITIK DAN SARAN
a.       KRITIK
1.      Masyarakat dalam negeri kurang menyadari dan kurang tertarik untuk melakukan kunjungan wisata ke Kraton Yogyakarta.
2.      Para guider tergolong sudah di usia tua.
3.      Waktu tutup untuk kunjungan di Kraton terlalu cepat.


b.      SARAN
1.      Masyarakat khususya dalam negeri bisa menyempatkan waktu untuk melakukan kunjungan wisata ke Kraton.
2.      Perlu dikembangkan penerus untuk petugas Guiding yang tergolong masih muda.
3.      Waktu tutup Kunjungan di Kraton,lebih lama
Sehingga para wisatawan tiak mrasa tergesa-gesa karena di buru oleh  waktu, sedangkan mereka belum selesai untuk mengunjungi semua objek yang ada di lingkungan Kraton Yogyakarta.














LAMPIRAN FOTO-FOTO











                                      DAFTAR PUSTAKA
Informasi langsung melalui wawancara dengan Ny.Brahamana sekertaris pengelola Keraton Yogyakarta.
Buku panduan wisata kraton Yogyakarta.